Bumi menggeliat. Burung-burung mulai bercicit sedang ayam sudah dari tadi berkokok. Masih gelap, aku mencoba menyibak makna (mengikat makna) selepas subuh ini. Apa agaknya yang menggelitik jiwaku untuk ditorehkan. Lalu mengalirlah, kau siap mendengar ceritaku?
Ini tentang seorang lelaki paro baya pada sebuah kampung di pinggiran kota Medan. Tempat ini tepat berada di belakang Palladium. Sebuah kawasan padat penduduk dengan pendapatan perkapita rata-rata rakyat jelata. Jangan sangkal bahwa tempat ini juga merupakan lahan maksiat; transaksi dan pemakai narkoba kudengar cukup marak di sini. Tempat ini tepat di belakang kampus IBBI Diamond.
Di tempat ini pula, Di pinggir Sungai Deli, ditutup rumah-rumah papan yang bersusun sembarang, dan kau harus menyusuri gang demi gang untuk menujunya, di sanalah sebuah musholla berdiri. Musholla sederhana yang juga diisi oelh para jamaah yang sangat sederhana (baca : sedikit) jumlahnya. Aku hafal benar wajah-wajah yang saban hari mengisi saf salat.
Adalah Pak Kasman (bukan nama sebenarnya), yang mengurus musholla ini.Ia yang selalu tepat waktu untuk mengumandangkan azan.Ia pula yang menjadi imam. Jangan ditanya soal minimnya pemahaman agama di tempat ini, mengingatkanku pada buku Ippho Santoso, begini kira-kira katanya, kemiskinan selalu menjadi pangkal kekufuran. ya begitulah.
Tak banyak yang salat di sini. Apalagi subuh, innalillahi, cuma tiga jamaahnya. Ke mana yang lain? Entahlah, semoga Allah segera memberi kita hidayah. Padahal, dalam Alquran sudah diterangkan, bahwa salat subuh ini disaksikan malaikat, menjadi cahaya di yaumul hisab dan pembeda antara yang mu'min dan munafik. Lantas, dalam hadis nabi juga diterangkan, seandainya mereka tahu bagaimana mulianya waktu subuh, mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.
Jadilah Pak Kasman sebagai muazzin dan imam dalam hampir seluruh salat lima waktu. Terkadang pula ia menjadi pemain tunggal. Musholla meradang, menangis sebenarnya. Akankah ini dibiarkan terus menerus begini. Umat sudah begitu jauh dari masjid. Ketika waktu salat tiba, yang bapak-bapak masih sibuk di lapak tuak, ibu-ibu masih bergosip ria di depan pintu. Lantas, siapa lagi yang akan mengisi masjid-masjid kita ini?
Bukan perkara penting bagi Allah, ketika kita datang menyembah atau tidak, kemulian Allah tetaplah sempurna. Justru diri kita yang terancam tak memperoleh berkah dari setiap apapun yang kita lakukan. Maka , jadilah kita seperti orang buta yang berjalan di tengah kegelapan. eh, udah dikasih tongkat kita malah ngeyel menolak pemberian tongkat itu. Dan semoga saja, akan lahir Pak Kasman selanjutnya.
Pages
Catatan Pagi
Sang Penandai
Rabu, 08 Februari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Facebook Badge
Facebook Badge
Pengikut
Entri Populer
-
Tsunami Aceh tahun 2004 lalu masih menyisakan luka yang mendalam. Tidak hanya bagi korban bencana, namun siapapun yang melihat dan menden...
-
Ringkasan Novel: Langit Senja Kota Medan. Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan bagiku. Pagi yang berbeda. Pagi yang menyisakan ha...
-
Oleh : Sang Penandai Sebenarnya saya bukanlah seorang maniak film. Apalagi film-film import, toh film-film dalam negeri saja saya banya...
-
Kau Sahabat Kau Teman Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami Kerana takdir yang Maha Esa telah menetapkan Sedih rasanya hati ini bil...
-
Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti muasal kata lebay ini. Kata ini begitu populer di awal tahun 2008, saat itu salah seorang teman k...
Labels
- Non Fiksi (1)
Semoga kita menjadi Pak Kasman berikutnya. paling tidak hanya sekedar mngumandangkan azan.