Sudah tiga hari aku di rumah ini. Rumah besar yang memiliki banyak kamar tapi hanya dihuni oleh dua orang saja; aku dan salah seorang wanita paro baya yang biasa membantu bersih-bersih rumah ini. Rumah yang selalu ditutup dan tampak sepi. Rumah yang dikelilingi pagar-pagar tinggi dari besi. Ah, rumah-rumah di sini memang mirip kandang. Kandang apa? Kau bisa menebak sendiri.
"Di sini lumayan banyak maling."
Aku tersenyum kecut.
Tiga hari ini pula aku merasakan dijamu seumpama raja, macam anak majikan saja. Semua kebutuhanku dipenuhi. Meski aku sudah bilang pada Wak Tety (begitu aku menyapanya) agar aku tidak usah diperlakukan secara berlebihan.
Bukan apa-apa, aku sudah biasa melakukan segala keperluanku sendirian. Jadi tak ada yang berubah sama sekali selama tiga hari ini dalam hidupku kecuali semua ini kurasakan seperti lakon sinetron saja.
Mungkin kau binggung, sebenarnya aku sedang bercerita apa. Baiklah, aku akan mulai dari awal saja cerita ini. Suatu sore di hari senin. Seorang temanku mengirim sebuah pesan singkat. SMS minta bantuan. Dia bilang dalam pesan singkatnya, dosennya ingin pergi ke Bandung selama dua minggu. Tak ada yang tinggal di rumahnya. Jadi aku dimintanya untuk tinggal di rumah selama dua minggu. Awalnya aku tidak menggubris tawaran ini. Ah, paling-paling nanti ada yang lebih siap menawarkan diri, pikirku. Tapi, keesokan harinya, temanku itu meminta kepastian dariku. Maka, setelah berpikir cukup panjang aku menyetujui. Meski ada gelisah, sebab bukan perkara mudah menjaga amanah orang. Apalagi menjaga rumah. Taruhannya adalah nyawa. Tahu sendirilah, maling-maling hari ini tak segan-segan untuk menghabisi siapapun yang menghadangnya. Dan aku hanya berserah diri pada Allah saja.
Malam Sabtu, jam sepuluh aku menemui penghuni rumah itu. Ternyata beliau adalah seorang bapak yang begitu baik dan lembut. Keturunan Arab. Ia tak banyak menanyaiku, malah menjelaskan panjang lebar tentag seabrek kegiatanku sehari-hari. Ia bilang tidak usah segan-segan di rumah ini. Semua fasilitas bisa aku gunakan. Ditambah lagi, beratus buku berjejar di tiga lemarinya. Dan aku dibebaskan untuk membaca sepuas-puasnya.
Jadilah malam minggu itu adalah malam pertamaku menghuni rumah ini, setelah pagi sampai sore aku disibukkan dengan lokakarya di Hotel Arya Duta. Badanku penat. Pula pikiranku. Aku mandi untuk merilekskan syaraf-syaraf di tubuhku. Dan pengalaman "gila" pertama mulai aku alami. Kamar mandi di rumah ini berada dalam tiap kamar. Dan setiap kamar mandi disediakan sebuah shower. Aku mandi dengan shower yang mengucurkan air dingin ke seluruh tubuhku. Pelan. Sampai aku merasakan tubuhku perlahan kembali segar. Syaraf-syaraf mulai lentur. Namun, tiba-tiba lampu kamar mandi redup sampai akhirnya mati. Shower yang mengucurkan air itu tiba-tiba berhenti. Aku mengira mati lampu. Seperti adegan-adegan film horor, lampu itu hidup-mati. Tubuhku masih berlumur busa sabun. Pun Wajahku. Shower itu bergerak sendiri, aku mencoba untuk mengendalikannya. Tapi pegangan shower itu tidak terkendali. Aku hempas. Lalu tiba-tiba semuanya kembali normal. Lampu menyala sempurna. Shower masih mengalirkan air yang jernih. Tapi bulu kudukku semakin berdiri. Aku merinding, mengedarkan pandanganku dan segera menyelesaikan aktivitas bersih-bersih ini secepatnya. Jantungku berdegup tidak teratur. Tiba-tiba aku merasakan kehadiran sosok lain di tempat ini sedang mengintaiku. Aku segera melilitkan handuk, memakai baju dengan tergesa dan keluar dari kamar itu.
Kejadian seperti ini sudah lumayan sering aku alami. Konon lagi aku selalu tinggal sendiri, di rumah baruku (yang kuhuni selama hampir setahun) akupun tinggal sendiri. Kupikir, biasalah ini terjadi, mereka hanya ingin berkenal saja denganku. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Dan aku juga tak pernah ingin mengusik kebaradaan mereka. Bukankah kita sama-sama hamba Allah yang memang hidup berdampingan?
Pages
Hantu Perempuan Di Kamar Itu
Sang Penandai
Selasa, 27 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Facebook Badge
Facebook Badge
Pengikut
Entri Populer
-
Tsunami Aceh tahun 2004 lalu masih menyisakan luka yang mendalam. Tidak hanya bagi korban bencana, namun siapapun yang melihat dan menden...
-
Ringkasan Novel: Langit Senja Kota Medan. Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan bagiku. Pagi yang berbeda. Pagi yang menyisakan ha...
-
Oleh : Sang Penandai Sebenarnya saya bukanlah seorang maniak film. Apalagi film-film import, toh film-film dalam negeri saja saya banya...
-
Kau Sahabat Kau Teman Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami Kerana takdir yang Maha Esa telah menetapkan Sedih rasanya hati ini bil...
-
Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti muasal kata lebay ini. Kata ini begitu populer di awal tahun 2008, saat itu salah seorang teman k...
Labels
- Non Fiksi (1)
Blog Archive
-
▼
2011
(12)
-
▼
Desember
(12)
- Hello Stranger (Thailand 2010)
- Review Novel: Rembulan Tenggelam Di wajah-Mu
- Segera : Ketika Mas Gagah Pergi Dan Kembali
- Review Film : Hafalan Shalat Delisa
- Madre di Tangan Dee.
- Menanti Kejutan Film Negeri 5 Menara
- Pahlawan Itu Bernama Ibu
- Hantu Perempuan Di Kamar Itu
- Forum Lingkar Pena Sumut
- NO EXCUSE
- Pada Angin Aku Meluruhkan Rasa
- Histeria Hafalan Sholat Delisa
-
▼
Desember
(12)
cermis alias cerita misteri memang selalu enyak ntok dibaca....