Sudah sore benar saat aku harus menggegas langkah dengan berlari-lari kecil menuju beranda laboratorium bahasa. Ya. Lab. Bahasa adalah dimensi ruang yang memersatukan jiwa kita saat gerimis menjebak langkah. Engkau mungkin lupa, bagaimana aku pura-pura mengibas kencang sisa air yang tertinggal di bahuku. Sengaja aku percikan ke wajahmu agar engkau menoleh melihatku. Namun, usahaku sia-sia.
Engkau telah lupa tentang pertanyaanmu, mengapa aku suka gerimis. Aku hanya tersenyum satire. Getir. Sebab, meski kuulang sejuta kalipun, tetap saja engkau lupa. Sebab katamu, aku tak penting.
Tak penting adalah kamus andalanmu untuk membuatku mati kutu. Ya. Aku memang selalu tak penting dalam hidupmu. Siapa aku? Lalu, ketika aku mencoba tak lagi memedulikanmu, engkau bilang aku sombong dan akhirnya kita malah memutuskan komunikasi setahun.
Mulanya dari mana aku juga lupa, tapi aku masih ingat, bagaimana kelas mendadak hingar binggar, riuh rendah suara saat engkau menjambangi kelasku. Begitu pula sebaliknya. Kita begitu tersohor di hati teman-teman seangkatan. Seolah kita selebritis yang saban hari digosipkan sedang berpacaran. Pacaran? Oh, tentu saja tidak. Tidak mungkin.
Lalu, apakah engkau lupa pernah menantangku menulis? Engkau dengan ponggahnya menyeringai sambil berujar sinis, kalau kau penulis, buktikan karyamu di media? Oh, engkau sungguh menantangku. Padahal sudah setahun lebih kita tak bertukar sapa. Sekadar ingin menimbun dalam-dalam isu yang menimpa; kalau kita pacaran. Tapi hari itu engkau menantangku?
"Sungguh, aku malu dengan teman-teman di organisasiku. Mereka mengira kita pacaran?"
Kata-katamu waktu itu engkau ucapkan seelegan mungkin, namun menguliti dinding hatiku. Engkau mengucapkannya dengan kebencian. Ya. Engkau sangat membenciku. Tapi mengapa aku tidak bisa membencimu?
Lalu adakah yang tersisa kini. Ketika jarak kita semakin membentang begitu jauh. Jauh sekali, sampai aku tak pernah lagi bertemu denganmu. Sampai mungkin suatu hari nanti surat undanganmu mampir ke pangkuanku dan aku mengharapkan bukan namamu yang tertera di sana. Tapi sayang, ternyata saat itu aku hanya bermimpi. Sebab kenyataanya sampai hari inipun aku tak mendapati surat undangan. Nomor HPmu bahkan tak bisa dihubungi. Tapi aku yakin, daun yang jatuh tak akan membenci angin, maka padanya,aku sampaikan segala gelisah rindu. Aku tak peduli orang-orang akan memandang apa tentangku, namun, dari pada aku menyesal seumur hidup, pada angin, aku ingin menyampaikan sebuah rasa yang telah lama aku pendam sedalam-dalamnya. Aku...Ah, tetap juga masih malu mengungkapkannya.*
*Untukmu.
Pages
Pada Angin Aku Meluruhkan Rasa
Sang Penandai
Senin, 26 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Facebook Badge
Facebook Badge
Pengikut
Entri Populer
-
Tsunami Aceh tahun 2004 lalu masih menyisakan luka yang mendalam. Tidak hanya bagi korban bencana, namun siapapun yang melihat dan menden...
-
Ringkasan Novel: Langit Senja Kota Medan. Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan bagiku. Pagi yang berbeda. Pagi yang menyisakan ha...
-
Oleh : Sang Penandai Sebenarnya saya bukanlah seorang maniak film. Apalagi film-film import, toh film-film dalam negeri saja saya banya...
-
Kau Sahabat Kau Teman Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami Kerana takdir yang Maha Esa telah menetapkan Sedih rasanya hati ini bil...
-
Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti muasal kata lebay ini. Kata ini begitu populer di awal tahun 2008, saat itu salah seorang teman k...
Labels
- Non Fiksi (1)
Blog Archive
-
▼
2011
(12)
-
▼
Desember
(12)
- Hello Stranger (Thailand 2010)
- Review Novel: Rembulan Tenggelam Di wajah-Mu
- Segera : Ketika Mas Gagah Pergi Dan Kembali
- Review Film : Hafalan Shalat Delisa
- Madre di Tangan Dee.
- Menanti Kejutan Film Negeri 5 Menara
- Pahlawan Itu Bernama Ibu
- Hantu Perempuan Di Kamar Itu
- Forum Lingkar Pena Sumut
- NO EXCUSE
- Pada Angin Aku Meluruhkan Rasa
- Histeria Hafalan Sholat Delisa
-
▼
Desember
(12)
manis sekali bahasanya. mudah dipahami, pembaca terbawa alur ceritanya. hm... hangat, meski gerimis.