Rabu Pagi.
Pagi tadi bakda subuh aku menghidupkan TV. Memencet tombol remote sesukaku, mencari acara pagi yang mencerdaskan otak. Ah, jika menonton berita di Indonesia isianya itu-itu saja. Bosan juga. Terus aku cari siaran luar negeri. Tentu saja bahasa pengantarnya dengan Bahasa Inggris. Karena aku anak Bahasa Inggris, maka tak salahlah jika menguji listeningku.
Berita tersaji, kali ini mengangkat topik dengan percobaan pembunuhan (baru aku tahu ternyata seluruh berita dunia selalu mengangkat topik yang sama). Percobaan pembunuhan oleh seorang ayah kepada anaknya. Alasannya sebab anak tersebut lahir dengan wajah yang tak lazim. Sang ayah merasa malu memiliki anak dengan wajah yang menyeramkan. Menurut pengakuan istirnya, bahkan sang suami sempat bertanya prihal kepastian anak tersebut.
Seluruh keluarga malu tak kepalang. Orang-orang sibuk mempertanyakan. Anak aneh dengan wajah menyeramkan itu dikucilkan, terutama oleh kelaurga besar. Untunglah sang ibu dengan kesabaran luar biasa mempertahankan anak tersebut sampai usia balita. Anak ini pernah akan dibunuh oleh ayahnya sendiri, saat sang ibu tidak ada di rumah. Ketika aksi pembunuhan itu akan terjadi, seorang tetangga menangkap basah dan melaporkan pada sang ibu. Sang ibupun mengejar. Usaha pembunuhan itupun gagal. Mereka diusir dari rumah. Sang ibu membesarkan anaknya seorang diri.
"Saya tidak mau bercerai dengan suami saya sebab saya tidak ingin anak saya kehilangan ayahnya." begitulah ujar sang ibu.
***
Aku menarik napasku menyaksikan berita itu. Mendengus begitu kesal. Sekaligus terharu luar biasa dengan pengorbanan ibu anak tersebut. Ini bukan berita baru, cerita lama tentang kebesaran jiwa seorang ibu. Benarlah memang, demi anak, seorang ibu rela mengendong tabung gas dan meloncat pada kubangan api. Ibu, cerita usang yang tak pernah lekang oleh waktu. Meski tak ayal, banyak juga memang ibu-ibu yang membunuh anak-anak mereka. Tapi kisah seperti itu jauh lebih sedikit dengan perjuangan seorang ibu kepada anaknya.
Bicara tentang ibu, sosok tersebut tak akan pernah lepas dari sosok kepahlawanan. Siapapun mereka; ketika ditanya siapa pahlawannya. Pasti jawabannya adalah ibu. Ya, ibu. Itulah mengapa, ketika salah seorang sahabat bertanya pada baginda Nabi, tentang siapa yang harus kita hormati di dunia ini. Nabi menjawab, Ibumu, Ibumu, Ibumu. Luar biasa sekali memang seorang ibu. Mereka adalah pendidik pertama anak-anak di zamannya. Mereka adalah tonggak sejarah lahirnya manusia-manusia unggul. Bahkan dunia dan isinya tak akan mampu menebus setetes air susu yang mengalir dalam diri kita. Semoga akan terus lahir generasi-generasi terbaik dari rahim wanita-wanita mulia. Bahkan dari rahim pelacur sekalipun, anak yang terlahir pasti dalam keadaan suci. Selamat menjadi Ibu. Bagi para suami atau ayah, selamat menjadi ibu yang mengayah.
Pages
Pahlawan Itu Bernama Ibu
Sang Penandai
Selasa, 27 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Facebook Badge
Facebook Badge
Pengikut
Entri Populer
-
Tsunami Aceh tahun 2004 lalu masih menyisakan luka yang mendalam. Tidak hanya bagi korban bencana, namun siapapun yang melihat dan menden...
-
Ringkasan Novel: Langit Senja Kota Medan. Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan bagiku. Pagi yang berbeda. Pagi yang menyisakan ha...
-
Oleh : Sang Penandai Sebenarnya saya bukanlah seorang maniak film. Apalagi film-film import, toh film-film dalam negeri saja saya banya...
-
Kau Sahabat Kau Teman Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami Kerana takdir yang Maha Esa telah menetapkan Sedih rasanya hati ini bil...
-
Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti muasal kata lebay ini. Kata ini begitu populer di awal tahun 2008, saat itu salah seorang teman k...
Labels
- Non Fiksi (1)
Blog Archive
-
▼
2011
(12)
-
▼
Desember
(12)
- Hello Stranger (Thailand 2010)
- Review Novel: Rembulan Tenggelam Di wajah-Mu
- Segera : Ketika Mas Gagah Pergi Dan Kembali
- Review Film : Hafalan Shalat Delisa
- Madre di Tangan Dee.
- Menanti Kejutan Film Negeri 5 Menara
- Pahlawan Itu Bernama Ibu
- Hantu Perempuan Di Kamar Itu
- Forum Lingkar Pena Sumut
- NO EXCUSE
- Pada Angin Aku Meluruhkan Rasa
- Histeria Hafalan Sholat Delisa
-
▼
Desember
(12)
0 komentar:
Posting Komentar